5 Penyebab Hancurnya Hidup Seseorang - Sebuah penelitian dari Finlandia menemukan bahwa stres yang muncul jika ada hubungannya dengan pekerjaan dapat meningkatkan risiko serangan jantung sebesar 23%. "Bahkan bisa lebih, ketika kamu sedang stres di tempat kerja atau tempat lainnya, efeknya dapat dilihat dari kesehatan yang mulai menurun," salah satu hasil dari penelitian oleh Katriina Heikkilä, Ph.D. Tentu saja, untuk menanganinya Anda perlu tahu penyebabnya terlebih dulu, baru kamu bisa tahu gimana cara menindak lanjutinya. Dan berikut inilah rangkuman, 5 penyebab stres yang bisa merusak hidupmu.
1. Tinggal di Wilayah Pantai Timur
Sebuah survei yang dilakukan oleh Yayasan American Psychological mengungkapkan bahwa 26% dari orang yang tinggal di wilayah timur Amerika Serikat cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk negara bagian lain. Kemungkinan ini bermula, pada akibat banyaknya orang yang pindah ke kota-kota besar di Pantai Timur seperti Boston, New York, dan Washington untuk memulai karir mereka, kata Stephanie Newman, Ph.D., seorang psikolog dan penulis Mad Men on The Couch, New York. "Di sana mereka tidak mendapatkan dukungan sosial seperti biasanya," jelasnya.
Solusinya: Hang-out bareng rekan kerja atau sahabat. Para ilmuwan dari Johns University mempelajari 70 masalah lingkungan sosial di New York, dan menemukan seseorang yang memiliki banyak teman memiliki denyut jantung yang sehat dan tingkat tekanan darah yang rendah, sekalipun sedang dalam tekanan.
2. Hidup di Kota
Menurut sebuah penelitian dari Jerman mengatakan, kalau dilihat dari cara berfikir orang kota menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat tekanan yang jauh lebih besar daripada mereka yang berlatar belakang hidup di pedesaan.
Solusinya: Berkumpul dengan alam, sekalipun itu artinya taman samping kantor atau rumah. Karena dari hasil penelitian di Kanada menunjukkan bahwa dengan menghabiskan waktu 17 menit saja dengan berjalan-jalan dan memandangi hehijauan tanaman dan pohon-pohon bisa membantu seseorang merasa lebih rileks sekaligus menambah energi positif buat dirinya.
3. Faktor Ekonomi
Tentu, bahkan tercatat lebih dari 6 dari 10 orang Amerika mengalami tekanan stres dengan tingkat ekonomi mereka yang menjadi faktor utamanya, dilansir dari American Psychological Association. Dan tahun lalu, Layanan Kesehatan Nasional Inggris melaporkan bahwa sudah mencapai jumlah 47% dari penduduk, yang melakukan penanganan stresnya tersebut akibat mengalami kemerosotan tingkat perekonomian sejak tahun 2007.
Solusinya: Mengurangi aktifitas tertentu. Tidak perlu mematikan saluran listrik, telepon ataupun internet, cukup dengan mengurangi kebiasaan-kebiasaan yang kurang menguntungkan atau yang hanya sekedar bisa eksis doang, seperti update Twitter atau situs berita all the time. Jadi cukup lah, update di awal dan akhir hari, bukan di setiap waktu.
4. Perayaan Pesta Ulang Tahun
Aneh nggak sih dengarnya? Tapi, cukup masuk akal. Pesta ulang tahun selalu identik dengan kesenangan. Namun perlu Teman CLEAR sadari dan ketahui, bahwa ketika pada titik-titik tertentu, juga bisa membuat seseorang stres, contoh seperti halnya remaja yang mulai menginjak di usia kepala dua. Tak banyak dari mereka bangga dianggap sudah dewasa, tahu sendiri kan kalau kata dewasa itu identik sekali dengan tumpukan masalah. Hehehe.. Jadi tak heran jika sampai ada sebuah penelitian dari Swiss yang menunjukkan bahwa 14% kemungkinan yang terjadi, hari ulang tahun mu merupakan hari meninggal mu dari hari lainnya selama setahun.
Solusinya: Nikmati saja pestanya namun tetap menjalani hidup sesuai prosesnya. "Disini, pria memiliki kemungkinan tingkat risiko bunuh diri lebih tinggi tepat di hari ulang tahun mereka, akibat mengonsumsi alkohol," menurut Vladeta Ajdacic-Gross, Ph.D., ilmuwan dari University of Zurich.
5. Menonton sebuah pertandingan
Dalam penelitian Journal of Medicine di Inggris melaporkan bahwa di Munich, jumlah penderita serangan jantung dan stroke meningkat 3 kali lipat lebih banyak saat hari-hari terselenggarakannya Piala Dunia 2006, dibandingkan hari biasanya. Dan kali ini sebuah penelitian dari University of Southern California menemukan bahwa setelah Pittsburgh Steelers mengalahkan Los Angeles Rams dalam Super Bowl, 1980, penderita serangan jantung berjenis kelamin laki-laki di Angelenos meningkat 15% pada minggu-minggu berikutnya. Rupanya, kekalahan sebuah klub sepak bola favorit cukup berpengaruh ya, terhadap kondisi mentality fans-nya.
Solusinya: Make it simple dengan beralih pada tim lain. Memberikan dukungan pada tim manapun yang berhasil melakukan perlawanan terbaiknya. Kalau kalian berpikiran ini plin-plan atau lain sebagainya menurut Christian End, Ph.D., seorang profesor psikologi di Universitas Xavier justru merupakan sebuah kreativitas sosial. Sedikit sulit sih memang untuk beralih jadi penggemar tim lain, tapi jika itu yang terbaik, kenapa tidak?

Post a Comment