
Nama Mukibat menjadi sumber inspirasi bagi pekebun dan peneliti
ubikayu. Pria yang hidup pada 1903—1966 itu menyambung singkong biasa sebagai batang bawah dengan singkong karet sebagai batang atas. Hasilnya, panen singkong konsumsi yang lazimnya 3—5 kg per tanaman melonjak 3— 6 kali.
Sayang, di lapangan teknik ala Mukibat sulit diterapkan. Tak semua pekebun terampil menyambung. Apalagi untuk luasan 1 ha singkong yang mencapai 4.500—10.000 tanaman —tergantung jarak tanam. Penangkar yang siap memproduksi bibit pun langka karena harga jual bibit rendah, Rp500 per tanaman. Akibatnya, teknik ala Mukibat hanya menjadi legenda. Banyak disebut orang, tapi langka dipakai. Persepsi keliru pun berkembang, mukibat dianggap nama varietas yang telah punah.
Toh, peran Mukibat tak berarti nihil. Ia menjadi sumber inspirasi pekebun lain. Di Tulangbawang, Lampung Utara, Mukibat menginspirasi KH Abdul Jamil, pengasuh pondok pesantren Darul Hidayah, Tulangbawang. Abdul Jamil mengeksplorasi ubikayu di hutan Panaraganjaya, Lampung Utara dan menemukan singkong aneh berumbi besar. Singkong berumbi besar itu lalu dikembangkan Niti Soedigdo, pekebun ubikayu di Lampung Timur, yang juga orang kepercayaan Abdul Jamil. Ia memodifikasi teknik mukibat: menjadikan singkong karet sebagai batang bawah. Di atas singkong karet, disambungkan singkong berumbi besar dari hutan. Itulah cikal-bakal singkong darul hidayah. Umur 8 bulan menghasilkan umbi di atas 10 kg per tanaman. Umbi menjalar horizontal, bukan vertikal seperti singkong lain. Karakter itu membuat panen darul hidayah relatif mudah. Pada umur 10— 12 bulan mampu menghasilkan 15 kg singkong per tanaman.
Trubus WEDNESDAY, 07 MARCH 2012
Post a Comment