Dajjal sang pembawa fitnah akhir zaman.
Dari sisi bahasa, makna Dajjal berarti banyak berdusta dan menipu.
Siapa pun yang banyak berdusta dan menipu, ada pengikutnya ataupun tidak, maka dia adalah Dajjal.
Demikianlah yang diistilahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka.
Beliau menjelaskan hal ini dalam banyak hadits seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al- Bukhari rahimahullahu dalam dua tempat (no. 3340 dalam Kitabul Manaqib dan no. 6588 dalam Kitab Al-Fitan) dan Muslim rahimahullahu dalam dua tempat (no. 8 dalam Muqaddimah dan no. 5205 dalam Kitab Al-Fitan Wa Asyrathis Sa’ah) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga dua kelompok besar saling berperang dan banyak terbunuh di antara dua kelompok tersebut, yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang, semuanya mengaku bahwa dirinya Rasulullah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah ruahnya harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta bingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada seseorang namun orang tersebut berkata: ‘Saya tidak membutuhkannya’; orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: ‘Aduhai jika saya berada di sana’; terbitnya matahari dari sebelah barat dan apabila terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya, mereka beriman seluruhnya (maka itulah waktu yang tidak bermanfaat keimanan bagi setiap orang yang sebelumnya dia tidak beriman atau dia tidak berbuat kebaikan dengan keimanannya).”
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa kata Dajjal sering dipakai untuk menamai seseorang yang banyak berdusta dan banyak menipu umat.
Para dedengkot kesesatan yang memproklamirkan diri sebagai nabi setelah Rasulullah SAW., adalah para Dajjal.
Sedangkan apabila disebutkan Dajjal secara mutlak, tanpa keterangan tambahan, maka tidak ada yang tergambar dalam benak setiap orang melainkan Ad-Dajjal Al-Akbar (yang terbesar), yang akan muncul di akhir zaman sebagai tanda dekatnya hari kiamat dengan sifat-sifat yang sudah jelas sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW.
Makar Syi’ah yang paling dahsyat di akhir zaman dan kini mulai terungkap adalah kerjasamanya dengan Amerika dalam Perang Salib.
Artinya, diwaktu para mujahidin berusaha untuk bergabung dari seluruh penjuru dunia Islam dan menyatukan barisan mereka dalam menghadapi pasukan Zionis Salibis, Syi’ah malah berkhianat, membuat makar untuk menghantam kaum Muslimin.
Dalam buku “Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib Baru” Syekh Aiman Azh-Zhawahiri (hfz) mengungkap hakikat Syiah dan perannya membantu Amerika dalam Perang Salib.
“Hal itu terus terjadi, hingga menjadi lebih buruk lagi dengan memberikan fasilitas kepada pasukan Amerika untuk menyerang Iraq dan Afghanistan.
Kemudian memberikan bantuan kepada kedua pemerintahan bonekanya dengan mengakui eksistensinya, mengusir Syekh Hikmaktyar(semoga Allah menjaganya) dari Iran ketika Karzai menyebutnya sebagai pengkhianat.
Kemudian dia menggunakan kekuasaannya dengan sikap kooperatif bersama pemerintahan boneka Iraq untuk memerangi mujahidin lalu lari pada hari peperangan dengan melarang dakwah menuju jihad melawan Amerika di Iraq dan Afghanistan.
Sebagaimana telah di ketahui bahwa pemerintahan Iran memberikan bantuan kepada Ahmad Syah Mas’ud yang telah diakui oleh Amerika secara resmi sebagai anteknya, di dalam laporan konggres setelah kejadian 11 September.”
DR. Abdullah An Nafisi menjelaskan politik Iran :
“Iran bertanggung jawab atas hal itu, karena Iran di antara dua isu, isu membuka diri yaitu isu Islam dan isu umum yaitu isu anti Amerika, anti Israel dan seterusnya.
Ini sudah mafhum dan dapat diterima.
Akan tetapi isu berkaitan rakyat Iran sebenarnya memiliki isu lain :
isu kekuasaan, isu kontrol, isu penugasan Syiah di Iraq.
Aku tidak percaya bahwa rencana Iran adalah rencana Syiah selamanya.
Bukan! Itu adalah rencana Persia di dalam negeri Iraq (nasionalisme). Menugaskan Syiah di Iraq demi kemaslahatan rencana Persia Iran.”
Kalau begitu, Syi’ah adalah ancaman paling nyata di akhir zaman.
Perkembangan demi perkembangan, khususnya di Timur Tengah semakin memantapkan bahaya dan ancaman besar Syi’ah dan Iran.
Sejarah akan berulang. Jika di masa lalu, persaingan laten terjadi antara Arab dan Persia, hari ini, sejarah berulang.
Orang-orang Arab yang diwakili oleh Arab Saudi dan Persia diwakili oleh Iran. Iran, alias Syi’ah, sejak dahulu, selalu menjadi penyebab utama masalah, Syi’ah ditakdirkan untuk menjadi lahan subur bagi perluasan berbagai penyimpangan dan kejahatan.
Ini tidak mengherankan dalam sejarah Persia, mereka paling sering melibatkan diri dan selalu saling kooperatif dengan orang-orang Zionis-Yahudi, Israel.
Sebagaimana dalam “Antara Syi’ah, Barat, dan Jihad Global“, dijelaskan bahwa Iran dengan Syi’ahnya saat ini berada dalam zaman keemasan.
Sejak berhenti melancarkan perang melawan Irak di 80-an, konsentrasi prakteknya hanya menyebarkan pengaruh melalui ajaran-ajarannya ke seluruh daerah, bahkan dunia.
Iran dengan Syi’ahnya yang akan terus mengepakkan sayapnya ke sejumlah wilayah di Timur Tengah dan Afrika Utara untuk menanamkan hegemoninya.
Era pergolakan dan hasil sesudahnya, dalam bentuk keterbukaan, dapat dimanfaatkan untuk potensi penuh oleh Iran, pada saat negara- negara regional lainnya yang mayoritas Sunni sibuk dengan bisnis mereka sendiri.
Sementara itu, Ketika Al-Qaeda dan para aktivis jihad global sedang diuji dalam hal ketahanan mereka, dengan memerangi melawan negara adidaya dunia (Amerika) di beberapa tempat sekaligus, Syi’ah dengan dukungan Iran sudah menggeliat dan siap menunggu menjadi musuh berikutnya.
Peperangan antara aktivis jihad global yang saat ini diwakili oleh Al Qaeda tidak bisa dihindari berhadapan dengan Syi’ah Iran yang menjadi antek dan kaki tangan Amerika beserta sekutu-sekutunya dalam perang salib.
Hal ini mengingat tujuan utama Iran sebenarnya adalah mencari pengaruh politik di manapun yang memungkinkan.
Syekh Aiman menjelaskan kondisi Lebanon setelah terjadi perang dengan Israel :
“Ketika terjadi perang di Lebanon yang mampu meraih eksistensi politik bagi pengikutnya, maka mereka ikut berperang dan ketika pasukan internasional menyanggupi untuk menjaga keberadaan politik dan militer mereka maka mereka menyetujui pasukan internasional menjajah Lebanon. Mereka juga setuju menggunakan cara kekerasan bagi Palestina, dimana Hassan Nashrullah mengaku sudah begitu lama berusaha untuk membebaskannya, akan tetapi sekarang dia menghindar darinya. Dan ketika bersepakat dengan Amerika dan mengakui akan pemerintahan mereka serta kerjasama dalam pemerintahan dan menghentikan jihad kaum Muslimin, serta berperang dibawah Salib mereka, mewujudkan sikap politik mereka di Iraq dan selalu berusaha mencarinya, mereka berkerjasama dengan Amerika dan berperang di bawah Salib mereka.”
source
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Post a Comment