Ads (728x90)

Latest Post

Kesehatan

Tips


Surat cerai Soekarno untuk Inggit

Inggit Garnasih harus menelan pil pahit manakala sang suami Soekarno mengungkapkan keinginannya untuk menikah lagi. Tegas Inggit menolak untuk dipoligami. Akhirnya perceraian pun tak bisa dihindarkan.

Soekarno dan Inggit menikah pada tahun 1923, kala itu usia Inggit jauh lebih tua. Inggit setia mendampingi Soekarno muda yang masih berapi-api memperjuangkan kemerdekaan dari tangan kolonial.

Hampir setiap hari Soekarno yang biasa dipanggil Kusno oleh Inggit keliling Bandung untuk memberikan orasi politiknya. Tanpa mengenal lelah sedikit pun Inggit selalu menemani.

Sampai pada akhirnya, kekhawatiran Inggit menjadi kenyataan, Soekarno bersama rekannya yang baru dari Yogyakarta diturunkan di Stasiun Cicalengka, Bandung. Selanjutnya dengan pengawalan ketat polisi, Soekarno dijebloskan ke Penjara Banceuy.

Didorong rasa cinta, Inggit berulang kali mencoba membesuk, namun ditolak. Dengan setia dia menunggu sampai Soekarno bebas. Ternyata Penjara Banceuy bukanlah yang terakhir, Soekarno kemudian dibuang ke Flores, diasingkan ke Bengkulu. Dalam kondisi itu Inggit masih setia mendampingi.


Surat cerai Soekarno untuk Inggit


Di Bengkulu, prahara rumah tangga Inggit dan Soekarno mulai terkoyak. Soekarno kepincut sosok wanita muda berparas ayu. Wanita itu bernama Fatimah. Soekarno yang terlanjur jatuh cinta, meminta izin ke Inggit untuk menikah lagi.

"Aku tidak bermaksud menyingkirkanmu. Merupakan keinginanku untuk menetapkanmu dalam kedudukan paling atas dan engkau tetap sebagai istri yang pertama, jadi memegang segala kehormatan yang bersangkutan dengan hal ini, sementara aku dengan mematuhi hukuman agama dan dan hukuman sipil, mengambil istri kedua agar mendapatkan keturunan," ujar Soekarno ke Inggit seperti dikutip dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Berbagai alasan yang diungkapkan Soekarno tak juga dapat menggoyahkan prinsip Inggit yang menolak dimadu. Akhirnya setelah hampir dua puluh tahun bersama, keduanya sepakat bercerai. Soekarno mengembalikan Inggit ke orangtuanya di Bandung.

Soekarno pun membuat surat perjanjian yang ditandatangani juga oleh Inggit. Dalam surat itu Soekarno menjatuhkan talak kedua, dan berjanji memberikan sebuah rumah, tunjangan hidup dan membayar hutang Rp 6.230 rupiah, tapi tak semua dipenuhi. Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantoro, dan Hadji Mas Mansoer menjadi saksi perjanjian itu.

Kemudian, pada 1 Juni 1943, Soekarno menikahi Fatimah yang belakangan namanya diubah menjadi Fatmawati. Saat itu Fatmawati berusia 20 tahun sedangkan Soekarno berusia 41 tahun. Dari pernikahan itu mereka dianugerahi lima, anak yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh.

Lagi-lagi Soekarno jatuh hati pada seorang wanita. Keinginan Soekarno menikahi Hartini, ditolak oleh Fatmawati yang memang memiliki prinsip menolak dimadu. Fatmawati lebih memilih menanggalkan status ibu negara, dan hidup tenang bersama anaknya.






Inggit, istri kedua Soekarno yang jadi rebutan pria Bandung

Inggit, istri kedua Soekarno yang jadi rebutan pria Bandung

 Inggit Garnasih setia mendampingi Soekarno di saat-saat sulit. Keduanya hampir 20 tahun mengarungi hidup berumah tangga dalam suka dan duka. Sebagai seorang wanita, Inggit tergolong wanita tangguh yang siap berkorban untuk suami yang amat dicintainya.

Soekarno sendiri mengaku beruntung memiliki Inggit. Selain cantik, Inggit juga bisa menjadi sosok yang lengkap bagi Soekarno. Inggit bisa menjadi seorang ibu, sahabat, kekasih, yang selalu menyemangati Soekarno.

Inggit lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888. Saat lahir Inggit diberi nama Garnasih oleh orang tuanya yang bernama Bapak Ardjipan dan Ibu Amsi. Garnasih merupakan singkatan dari kata Hegar Asih. Hegar memiliki arti segar menghidupkan, sementara Asih memiliki arti kasih sayang.

Tambahan kata Inggit di depan nama Garnasih memiliki sebuah cerita menarik. Inggit diambil dari kata 'Seringgit'. Jika dinominalkan satu ringgit sama dengan 2,6 Gulden Belanda kala itu. Jumlah itu sangat besar saat itu.

Inggit sejak kecil selalu menarik perhatian lawan jenisnya. Saat beranjak dewasa, Inggit tumbuh menjadi wanita yang cantik. Kecantikannya saat itu tak ada yang menandingi di daerahnya tinggal.

Akibat kecantikan yang dimilikinya, sampai-sampai membuat pria yang melihatnya enggan untuk berkedip. Mereka menaruh rasa cinta kepada Inggit. Bahkan, saat itu muncul sebuah kalimat di kalangan pria yang mengaguminya.

"Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit," demikian ditulis dalam buku 'Biografi Inggit Garnasih: Perempuan Dalam Hidup Sukarno' karya Reni Nuryanti, terbitan Ombak.

Rasa suka dari para pria terhadap Inggit kemudian diberikan dalam bentuk uang seringgit. Tiap bertemu dengan Inggit, para pria selalu memberikannya uang seringgit.

"Sejak itulah aku diberi nama atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya si Ringgit dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya," kata Inggit.

Kejadian itu tak hanya terjadi di luar rumah. Saat berada di dalam rumah, Inggit kerap kali dilempari para pria dengan sebuah bungkusan yang berisi uang seringgit dengan genteng sebagai pemberatnya.

Inggit muda kemudian merasakan jatuh cinta. Inggit jatuh cinta kepada seorang pemuda bernama Sanusi. Namun, jalinan kasih keduanya tak berlanjut ke pelaminan. Inggit yang didorong rasa cemburu karena mendengar Sanusi akan dinikahkan dengan gadis lain, memutuskan menikah dengan Kopral Residen Belanda bernama Nata Atmadja. Pernikahan itu terjadi saat Inggit berusia 16 tahun.

Namun, pernikahan Inggit dengan Nata tak berlangsung lama. Keduanya akhirnya bercerai pada 1904. Di dalam lubuk hatinya, Inggit ternyata masih mencintai Sanusi. Tak lama berselang, Sanusi akhirnya bercerai dengan istrinya. Inggit dan Sanusi akhirnya menikah.

Keduanya kemudian bercerai pada 1923. Inggit kemudian menikah dengan Soekarno dan mengarungi bahtera rumah tangga selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Inggit dicerai Soekarno karena tak terima dimadu oleh Soekarno yang hendak menikahi Fatmawati.



Inggit Garnasih, wanita yang menaklukkan hati Soekarno muda

 Akhir Juni 1921, Soekarno muda datang dari Surabaya setelah lulus Hoogere Burger School (HBS). Dengan mimpi besar dia ingin menjadi seorang insinyur di bidang teknik sipil. Maka Soekarno meneruskan kuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Saat itu mahasiswa teknik pribumi masih itungan jari.

Atas pertolongan Tjokroaminoto, guru sekaligus mertuanya, Soekarno mendapat tempat kos di rumah Sanusi. Pria paruh baya ini adalah anggota Sarikat Islam. Inggit Garnasih adalah istri Sanusi, yang kini menjadi ibu kos Soekarno.

Soekarno sudah mengagumi Inggit sejak pandangan pertama. Dia tak pernah lupa saat Inggit menyambutnya di pintu rumah Jl Ciateul, Bandung.

"Keberuntungan yang utama itu sedang berdiri di pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang. Dia memiliki tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona. Dia adalah istri Haji Sanusi, Inggit Garnasih. Oh, luar biasa perempuan ini," kata Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Saat itu usia Soekarno 20 tahun. Sementara Inggit 33 tahun. Kematangan Inggit yang membuat Soekarno terpesona.

Soekarno memang saat itu telah menikah dengan Oetari Tjokroaminoto, tapi pernikahannya berjalan hambar. Oetari terlalu kekanak-kanakan untuk Soekarno yang bersemangat. Soekarno tak pernah mencintainya. Dia menikahi Oetari untuk membantu gurunya Tjokroaminoto. Bukan karena cinta.

Inggit pun terkesan dengan pertemuan pertama. "Dia mengenakan peci beledu hitam kebanggaannya dan pakaian putih-putih. Cukupan tinggi badannya. Ganteng. Anak muda yang bersolek, perlente." kata Inggit dalam novel biografi Kuantar ke Gerbang yang ditulis Ramadhan KH.

Inggit melayani semua kebutuhan Soekarno. Setiap hari bertemu membuat keduanya mulai berani bicara hal-hal pribadi. Soekarno menceritakan soal perkawinannya yang hambar. Akhirnya Soekarno tahu, Inggit pun tak bahagia dengan perkawinannya.

Setiap malam Sanusi meninggalkan Inggit untuk pergi main biliar dan berkumpul bersama teman-temannya. Perkawinan Inggit ternyata sama dengan Soekarno, sama-sama hambar.

Oetari sempat tinggal di rumah kos. Tetapi tak lama. Saat berada di rumah kos, Oetari pun tak tinggal satu kamar dengan Soekarno. Akhirnya Soekarno menceraikan Oetari.

Maka Inggit menjadi teman curhat Soekarno yang setia. Pada Inggitlah, Soekarno menumpahkan segala keluh kesah dan cita-citanya. Malam-malam yang dingin di Bandung menyatukan mereka. Akhirnya hubungan ini berlangsung lebih jauh dari sekadar anak kos dan induk semangnya.

"Hanya Inggit dan aku dalam rumah yang sepi. Dia kesepian, aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan, sebagai dapat diduga. Hubungan ini berkembang," kata Soekarno.

Soekarno dan Inggit menjalin percintaan sembunyi-sembunyi di belakang Haji Sanusi. Hingga akhirnya Soekarno secara terus terang meminta Sanusi menceraikan Inggit. Sanusi sudah tahu rumah tangganya berantakan. Dia dengan sukarela menceraikan Inggit.

Maka Soekarno menikahi Inggit tahun 1923. Kelak, hampir 20 tahun Inggit mendampingi Soekarno baik suka maupun duka. Inggit menemani Soekarno saat dibuang di Flores, diasingkan ke Bengkulu dan dipenjara pemerintah kolonial. Inggit juga mengorbankan harta bendanya untuk perjuangan Soekarno tanpa pamrih. Bisa dibilang, Inggit adalah wanita yang paling berjasa untuk Soekarno.

Tanggal 14 Februari ini, merdeka.com coba menghadirkan kembali kisah cinta Inggit dan Soekarno. Tanpa Inggit, Soekarno tak akan menjadi seorang pemimpin besar. Cinta memberi kekuatan bagi Soekarno untuk berjuang membebaskan negerinya dari penjajah. Cinta juga yang memberi kekuatan Inggit untuk berkorban.


sumber | iniunic.blogspot.com | http://www.merdeka.com/peristiwa/surat-cerai-soekarno-untuk-inggit.html

Post a Comment